Pages

Tuesday, 4 December 2012

Tha Tha Twitter

Twitter account pribadi pertama saya dibuat tahun 2009 gara-gara katanya kalau nggak buat twitter, maka nggak hype. Pada saat itu. Akhirnya saya buatlah. Padahal sebelumnya saya bertekad nggak mau bikin dan nggak mau add orang biar kayak artis banget. Akhirnya ya karena saya nya yang sok artis padahal bukan artis, jadilah saya bikin dan nge add orang. Moral saat itu: Nggak usah sok ngartis kalau bukan artis.

Hari demi hari berjalan, saya mnikmati ngetwit. Apapun say atwit. Awalnya kebetulan saya lagi dirundung perasaan gundah gulana dan gelisah berkepanjangan, jadilah saya ngetwit hal-hal berbau romansa dan gloomy. Lalu makin lama, say amakin napak. Ngetwitlah kejadian-kejadian sehari-hari. Lama - lama saya ngetwit hal-hal jayus, guyonan yang kayaknya kalau dipikir-pikir kok nggak lucu-lucu amat ya. Jadilah saya nyampah di twitter. Apapun lah saya tulis asal keisi.

 
(image taken from mashable.com)

Saya kayak nggak ada kerjaan. Twitter kayak nggak ada gunanya buat saya. Lama-lama saya jadi kayak ketergantungan karena dikit-dikit, ngetwit. Kejadian apa di tv, ngetwit. Lagi makan, ngetwit. Adalah saya makin tenggelam dalam twitter. Menurut saya ya...

Lalu lama-lama saya berfikir, apa saya belum siap untuk twitter? Padahal media ini sangat bermanfaat lho. Saya ini siapa sih di twitter? Twitter ini untuk apa sih buat saya? Dengan sekian hari merenung, akhirnya saya memutuskan untuk deactivate sekitar 3 minggu lalu. Pasalnya, twitter menyita pikiran saya. Dan langkah serta keputusan yang saya ambil untuk hal-hal yang menyita pikiran adalah, dengan menghilangkan hal tersebut -untuk memberikan space kepada hal-hal penting yang seharusnya dipikirkan.

So this is it. I feel more relieve and happy. Saya jadi makin menikmati hidup dan segala moment yang ada dengan mengkonsumsinya dan mencernanya bagi diri sendiri. Saya makin lebih 'sadar', instead of anti social seperti saat ketika saya bermain di twitter. Kalau dikata twitter penting buat cari berita, ikutan kuis; ah buat saya berita paling enak kalau dibaca panjang seperti di website dan di koran karena kita tahu semua keputusan. 140 karakter tidak cukup buat saya. Keputusan ini pada akhirnya, baik untuk saya peribadi.

Mungkin nggak ya suatu saat nanti saya bikin account lagi? Bisa saja. Tunggu saja tanggal mainnya.

So, what is twitter to you?

No comments:

Post a Comment

tell me what you think!