Pages

Saturday, 23 January 2010

Meet the gleek of Glee


{ Rated 9 stars at IMDB, Glee is Glee is an American musical comedy-drama television series that airs on Fox. It focuses on a high school show choir (also known as a glee club), called "New Directions!". The pilot episode of the show was broadcast after American Idol on May 19, 2009, and the first season began airing on September 9, 2009. On September 21, 2009, Fox officially gave the series a full-season pick-up. Glee aired its mid-season finale on December 9, 2009 and is currently on a 4-month hiatus before returning on April 13, 2010 with the remaining 9 episodes of the season.On January 11, 2010, Fox President, Kevin Reilly announced at the Television Critics Association winter press tour that Glee has been renewed for a second season. }


This isn't like any ordinary High School Musical Song because it's simply different. It stated clearly that the Loser is the winner. Aahha! That's what i really like about it. And the story was pretty common, very generic high school situation, and easy to understand. So easy i couldn't resist to watch it all over and over again! Very, very, very reccomended TV series for you to watch, hail losers!! :'D


Friday, 8 January 2010

Pengalaman pertama donor darah



Tadi pagi aku ikutan donor darah.

Jadi jam 8 tadi aku ikutan tante ke bengkel Toyota - Auto 2000 di Saharjo. Nah, sembari menunggu mobil di setel macem-macem, alarm dan sebagainya, tiba-tiba ada mobil gede banget tulisannya donor darah PMI gitu.
Jadi sebenernya tuh aku pengen banget nyobain gimana rasanya donor darah yah sekalian ngilangin lemak soalnya kayaknya seru (motif membantu orang yang membutuhkan malah nggak dimention :D ) dan lagipula aku kan suka banget nonton True Blood, film series tentang vampire gitu (nggak ada hubungannya sih padahal eheheh) .

Jadi yaudah nih akhirnya menuju lokasi pengambilan darah, di tempat trainingnya mereka, sudah ada kasur dan Ibu-ibu yang siap nusuk-nusukin jarum.Diperiksa darahnya, ini nih saat-saat yang menyebalkan soalnya kenapa yah jari ditusuk tuh sakit perih huhhh. Dijepret pula :{|} grrr..

Yaudah, mulailah saat-saat menyenangkan yaitu dicoblos nadi nya. Kata mbaknya, tipis sekali itu nadinya, biasanya cewek tuh begitu, nggak kayak cowok, nadinya kan keliatan ya. Terus, darah mengalirlahhhhhh. Yah, sekitar 5-10 menitan aku tiduran disana. Seruu seruu ngeliat darah ngalir masuk ke kantong darah, bentuk kantongnya pun bagus (karena baru liat jadi norak gini :D ). Terus dijepet selangnya, gunting, keluarin, dll, lucu lah! Pengalaman yang seru.

Seselesainya, aku bangkit, alhamdulillah nggak pusing - pusing. Apa karena kegendutan yah? :| Jadi pasokan darahnya mau diambil sebanyaka apapun juga ngga ngaruh ahah!

Katanya, musti sering-sering donor darah, biar terjadi pergantian siklus darah. Oke deh!

The Magic of Sharing

is you'll get something in return.

A happy feeling, a warm smile, a pleasure, and a nice day.

So, start share what you have. Don't be greedy. It doesn't have to be a thing. It can be blood, it can be help, it can be voice, it can be smile.

:)



Monday, 4 January 2010

The Bule’s Fenomena – Why we love them so much

Nggak jarang setiap hari kita melihat serentetan wajah-wajah asing di Indonesia, terutama di Jakarta. Meskipun sesama foreigner, tapi yang biasa disebut Bule adalah mereka yang berkulit putih, either itu Americans, Australians, atau Europeans. Dan, nggak usah ditanya lagi sebuah kenyataan bahwa kita punya pandangan sendiri terhadap mereka. Apakah itu?

Mental jajahan Indonesia masih sangat kuat. Pengalaman terjajah sekian lamanyaaaa masih lekat di kepribadian kita. Seperti apa misalnya? Banyak dari kita yang menganggap bule itu, WAH. WAH dalam arti kata, lebih punya power, lebih disegani, mereka itu pintar, dll.

Sebenarnya kalau ditelusuri lebih lanjut, kenapa mereka lebih disegani mungkin karena mereka tipe orang yang liberal. Blak blakan. Beda dengan disini yang malu malu kucing dalam menyampaikan pendapat. Kenapa mereka dibilang lebih punya power, karena mereka satu-satunya yang berbeda (warna, perawakan) diantara masyarakat majemuk disini. Kayak gini deh, dari antara seribu angsa putih, ketika ada 1 angsa hitam yang join the herd, pasti angsa hitam itu yang menarik perhatian. Karena berbeda. Belum tentu dia lebih baik, kan? Bisa saja angsa hitam itu ambeyen atau sakit kutil. Tapi bukan itu yang dilihat. Luaran lebih penting. ( jadi ingat fenomena The Black Swan. Have you guys read it? )

We are afraid of them. Kita cenderung nurut sama mereka.
Bule nanya sesuatu ke resepsionis bersama dengan penduduk local lainnya, pasti dia yang didulukan. Kecenderungan mendahulukan bule. Lalu ada lagi, misalnya dalam dunia pekerjaan. Bule selalu lebih dipercaya. Contohnya deh yang sering terjadi, gaji bule pasti lebih besar. Misalnya ada 2 team untuk bekerja dalam proyek yang sama. 1 team local berisi 3 orang, dan 1 team lainnya berisi 2 orang bule. Gaji si team bule, 2 kali lipat.

Atau semakin maraknya pimpinan pimpinan bule di banyak perusahaan. Nggak jarang keluhan-keluhan datang dari bawahan yang notabene nya, penduduk local. Bagaimana senang, dipimpin oleh pimpin an bule (mungkin juga) baru datang ke Indonesia dan ujug2 dijadikan atasan mereka. Tahu tentang culture Indonesia saja tidak, lalu tiba2 merombak semua peraturan. Belum lagi alasan yang diberikan oleh pihak HRD yang menyatakan bahwa, “Ya.. kalau saja orang Indonesia bisa sepintar bule”. Ironis. Siapa yang ironis? Orang Indonesia tidak sepintar bule, atau pandangan orang Indonesia yang tidak percaya kemampuan sendiri?

Bule masih dipandang lebih jago dan lebih pintar.
Tapi pernah nggak kebayang kalau mereka sebenarnya juga orang biasa? Lahir dari keluarga sederhana di negaranya, sebut saja USA, lalu ikut suami/istri ke Jakarta, lalu cari pekerjaan. Se-biasa itu kehidupannya. Nggak spesial.

Dalam hal ilmu, disayangkan, banyak orang bule yang dianggap superior. Atau orang Indonesia yang lulusan luar negri , juga dianggap lebih berkualitas. Tanpa bermaksud merendahkan mereka, kadang kita tidak melihat kualitas sendiri. Ambil contoh satu lagi deh. Sebuah studio yoga biasanya dilihat bagus tidaknya, dari, Apakah dia memiliki pengajar bule. Nggak jarang hal itu terjadi krn anggapan, akan bagus dan lebih bernama kalau punya pengajar orang luar. Tanpa, memperhatikan apakah pengajar itu benar-benar memiliki sertifikat mengajar dan tahu betul anatomi tubuh manusia sebagaimana yang harus dimiliki seorang pengajar, Iyengar misalnya. Nggak sedikit juga dari mereka yang hanya iseng2 ngajar berbekal, tahu sedikit tentang yoga. Dan nggak sedikit pula yang belajar dari pengajar local yang memang sudah jauh lebih mahir. Hanya karena lokal saja, jadi nggak dipandang. Ironis?

Lalu, semua salah si bule?
Nggak lah. Salah cara pandang saja kalau kata saya pribadi.

Telah disebutkan kalau kita masih bermental dijajah. Nrimo. Rendah diri, minder. Inferior. Dan sulit untuk maju, kemauan diri untuk jadi lebih baiknya, rendah. Correct me if I’m wrong, please :)
Ambil contoh Cina. Pemerintah Cina membiayai orang-orangnya untuk kerja diluar, sedot, ambil ilmu, dan kembali lagi ke Cinta untuk memajukan bangsa. Orang Thailand, di advertising agencynya, nggak ada yang mau kerja di bawah pimpinan bule. Kalaupun ada juga bawahannya pasti orang Filipina, Singapura, India. Mereka local content-nya amat sangat kuat. Itulah mengapa kalau diperhatikan, iklan-iklan Thailand sangat kuat dan bagus. Kenapa? Karena menurut mereka, hanya mereka yang tahu diri mereka sendiri.

Bagaimana dengan kita?
Kembali saya bertanya kepada anda dan diri saya sendiri sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Apakah semua kegiatan, perusahaan, usaha kita baru bisa maju setelah campur tangan bule? Mengapa banyak sekali bangunan-bangunan, kegiatan sosial, hasil desain, bahkan pelestarian kebudayaan dan juga kebun binatang malah ditangani oleh bule, dan berhasil? Mungkin kita cenderung misah misuh, tapi apa yang sudah kita perbuat untuk menjadikan Negara ini lebih baik, lebih berkarakter, lebih punya kemauan? Seperti sebuah slogan, kutau yang kumau. Kamu gimana?



Mari bercermin. :)

cheers!

Sunday, 3 January 2010

Saturday, 2 January 2010

This is a plastic world

and everything is fake, nothing comes naturally, nothing is natural anymore. The people, the environment, the universe.

TET TOT! Openingnya terlalu berlebihan! :P

Tapi bener sih, topik kali ini adalah plastik. Tas plastik. Siapa yang nggak punya tas plastik yah? Meski ekonomi nggak merata, kesetaraan gender nggak sama, tapi yang semua orang punya pasti kantong plastik kresek. :D

Nggak perlu cerita embel-embel berlebihan soal kantong plastik yah, karena:
1. Semua udah tahu bahayanya, tapi nggak semuanya peduli lah..
2. Kantong plastik kan mempermudah banget, jadi sayang kalau dihilangkan. (percaya nggak percaya, hal ini udah kayak teknologi. Mempermudah, mematikan perlahan :D )
3. Iklan soal pencegahan kantong plastik sudah banyak. Dan banyak yang jadi angin lalu.
4. dll, dst :)

Sekarang kita lanjut ke arah pencegahan.

“Kantong plastik ramah lingkungan yang akan hancur dalam jangka waktu 2 tahun”, kata tulisan yang tertera di sebuah kantong plastik pusat belanjaan. Hmm. Itu sama kayak “kadar alcohol dalam minuman ini hanya 0,1%”. Intinya? Sama aja bahayanya.

Mau bilang Let’s Go Green kok akan terdengar lousy ya? Tapi coba cek yang berikut ini.

Mau bilang bahwa kita negara berkembang yang modern menurut saya nggak juga. Siapapun yang bilang kalau kita harus cinta negara sendiri dengan beberapa aksi nasionalisme membela negara ketika kedudukannya terancam, tapi tahu nggak kalau kebiasaan sehari-hari saat belanja pun lebih mengancam tanah air sendiri?

CMIIW, sudah pernah belum sih kita punya aksi Bring Your Own shopping bag yang sukses dijalankan? Atau mulai dijalankan? Mungkin pernah, tolong beritahu saya :) Terus.. situs-situs atau majalah yang sukses mengkampanyekan green living sehingga menggugah banyak orang seperti TreeHugger atau The Green Guide dari National Geographic?

People Come On!
*tampar-tampar pakai sandal jepit*

Imagine this ya, keren banget loh kalau kita belanja nggak pakai kantong plastik! :D Bayangin keluar masuk supermarket sambil bawa tas beginian:


COOL isn’t it? :)

Mungkin nggak perlu muluk2 melakukan hal yang berat-berat untuk mencintai dan menjaga lingkungan sampai harus terjun ke kali buat ikutan ngambilin sampah. Mulai dari diri sendiri aja. Dengan menganggap bahwa plastic bag isn’t cool at all, my own bag is! kita udah bisa ikutan bantu bumi kok :)

Once again, it’s all in your mind.

Cheers!!

images credit here