Pages

Sunday, 30 March 2014

The Raid 2

Back again!

Kali ini nontonnya The Raid 2. Awalnya emang karena bingung lagi nunggu di mall, daripada numpang wifi gratis di kafe, mending nonton. Kali ini di Pacific Place (apa Pasific Place ya nulisnya?)

YOWES.

Satu komentar saya selama nonton ini cuma, "Yah, dipukul lagi deh." Ituu terus pas ada adegan pukul-pukulan. Sebenernya kalau nonton ini nggak pakai audio mungkin nggak bikin geli ya perut. Ini karena audionya heboh, jadi menambah perasaan mencekam gimana gitu. Mulai dari suara paha dibelah, tangan dipatahin, urat nadi kekoyak palu sampai kepala jatuh di lantai marmer. EWWW sakitt pasti. (iyalah).



Namanya juga review ya, isinya komentar. Saya mau komentarin beberapa scene ah... (Yang saya inget aja sih).

Scene di penjara: Kok bisa ya dia nggak capek ngalahin sebanyak itu? Terus, dindingnya kan sayang sampai bolong.

Scene di penjara tapi di lapangan lumpur: Biasanya kalau mau ngalahin penjahat, yang jagoannya lari dari kiri ke kanan, yang jahat dari kanan ke kiri. Kalau dibalik, nggak enak dan nggak biasa kali ya liatnya? Dan itu piyeeee nyucinyaa anak anakkk.


Scene kantor si Pak Bos Bangun: 'Dingin' amat ya kantornya... Bukan tipe desain kantor favorit saya. Kalau saya yang punya kantor, pasti warnanya agak-agak retro, terus ada tema industrial sama world travel. Ada unsur vintagenya disana sama eklektik deh boleh.

Scene di studio pornonya Topan: Jadii sebanyak itu dvd nya setingnya dibalik tirai ajaa? Ah.

Scene di bar: Ahhh sedihnya. Kasian prakosooo :'(

Scene sebelum masuk dapur: Kayaknya kalau dibikin film sendiri (kayak The Hobbit) untuk karakter Baseball Bat Man sama Hammer Girl, oke deh. Jadi kisahnya begini: Suatu hari ada orang main baseball, lalu bolanya kena seorang cewek, kemudian dia pingsan. Dan yang terakhir dia lihat adalah palu yang kebetulan ada di sampingnya (palunya itu ujug2 ada aja disitu nggak tahu gimana). Bangun-bangun yang dia ingat cuma palu. Dan si baseball bat man itu merasa bertanggung jawab, dan ngajarin si cewek cara menggunakan palu untuk menumpas manusia.



Scene di dapur: Cukup intense. Boleh, boleh.

Scene terakhir di ballroom yang cuma 1/78 areanya aja dipakai buat 1 meja makan bundar: Biaya sewa satu ballroom, dipakai segitu aja... Disinilah terjadi kesalah pahaman yang mematikan.

Saya agak sulit mengingat jalan cerita, apalagi mengkaitkan dengan The Raid pertama, apalagi mengkaitkan dengan adegan 5 menit sebelumnya. Wah, butuh 3 tahun itu. Kayak misalnya: pas si Bejo (Alex Abbad) kelihatan tattoo di pergelangan tangannya, terus si Ucok (Arifin Putra) tiba2 inget pas dia gorok seseorang, terus... itu hubungannya apa ya? Lalu, pas ada karakter ini muncul dan ditembak, itu...dulu siapa ya? Terus itu kenapa musti di semak-semak ya? Kapan mereka ke semak-semaknya? Belum lagi kalau ada yang menjelaskan pertanyaan saya soal tatto diatas, pasti saya nanya lagi minta dijelasin dari awal. Pusing!

Seperti biasa, moral dari film ini adalah:

  1. Ya mbok yaaaa kalau ngiklan jangan se obvious dan se eksplisit itu lah. Saya jadi inget produk yang diiklanin kan daripada jalan ceritanya. Eh tapi tabletnya boleh juga.
  2. Bikin alat sadap yang nggak obvious alat sadap bentuknya, biar nggak ketahuan. Bisa dibuat seperti peniti, atau kayak biji apa gitu yang kecil banget, atau kayak bentuk kartu. Jadi kalau ditaruh di dompet, nggak ketahuan banget.
  3. Pakai sarung tangan yang agak panjang kalau niatnya mau nutupin tattoo yang ada di pergelangan tangan.

See you again next review!