i love it when you silent
and there's no one else around
because you are the only one
that stand stood behind
i love it when you speak no word
and the smell of your plain parfume
and your sleek smooth skin
i'd be delightful just to taste a bit
i love it when you shut your mouth
and also your eyes
and also your heart
and oh, your mind to
because your body is all mine
even that your soul has left behind
oh i love it when i can owe you forever,
my dear lovely man.
Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts
Tuesday, 14 April 2009
Tuesday, 17 June 2008
Percaya
Bagaimana saya bisa bikin saya percaya kalau saya sendiri tidak mau percaya?
Kamu bisa bikin saya percaya?
Coba bikin saya percaya!
Apa? Bagaimana?
Percayakan saya sesuatu.
Tapi saya tidak mau yang itu,
Karena.. Ya, saya tidak percaya itu.
Yang lain ada?
Kamu kehabisan apa yang bisa membuat saya percaya?
Karena saya nggak hentinya tak percaya, ya?
Hahaha!
Kepercayaan saya sudah mulai pupus, karena kamu suka bikin saya nggak percaya.
Habis kamunya juga tidak mempercayakan dirimu untuk dipercaya sih!
Berlagak tak ada apa-apa, diam seribu bahasa, takut salah, dan takut ketahuan,
Iya kan?!
Bagaimana dong saya bisa percaya kalau kamu tak berkata.
Bukannya saya tak percaya tindakan namun percaya kata-kata,
Tapi tindakan kamu juga yang terselubung.
Berharap saya mengerti. Saya bukan peramal.
Tahukah,
Saya mau sekali mengerti,
Saya ingin sekali mengetahui,
Tapi saya pun takut,
Kalau saya terlalu percaya diri.
Serasa saya tahu apa bentuk percaya diri terselubung kamu
Bagaimana kalau saya benar, katamu?
Bagaimana kalau saya salah.
Kenapa kamu tidak bilang saja?
Kenapa kamu tidak percaya?
Kepercayaanmu bisa menjelaskan semua,lho..
Semua ketidak percayaan yang sudah ada sampai sekarang.
Percaya sama saya. . .
Kamu bisa bikin saya percaya?
Coba bikin saya percaya!
Apa? Bagaimana?
Percayakan saya sesuatu.
Tapi saya tidak mau yang itu,
Karena.. Ya, saya tidak percaya itu.
Yang lain ada?
Kamu kehabisan apa yang bisa membuat saya percaya?
Karena saya nggak hentinya tak percaya, ya?
Hahaha!
Kepercayaan saya sudah mulai pupus, karena kamu suka bikin saya nggak percaya.
Habis kamunya juga tidak mempercayakan dirimu untuk dipercaya sih!
Berlagak tak ada apa-apa, diam seribu bahasa, takut salah, dan takut ketahuan,
Iya kan?!
Bagaimana dong saya bisa percaya kalau kamu tak berkata.
Bukannya saya tak percaya tindakan namun percaya kata-kata,
Tapi tindakan kamu juga yang terselubung.
Berharap saya mengerti. Saya bukan peramal.
Tahukah,
Saya mau sekali mengerti,
Saya ingin sekali mengetahui,
Tapi saya pun takut,
Kalau saya terlalu percaya diri.
Serasa saya tahu apa bentuk percaya diri terselubung kamu
Bagaimana kalau saya benar, katamu?
Bagaimana kalau saya salah.
Kenapa kamu tidak bilang saja?
Kenapa kamu tidak percaya?
Kepercayaanmu bisa menjelaskan semua,lho..
Semua ketidak percayaan yang sudah ada sampai sekarang.
Percaya sama saya. . .
Sunday, 8 June 2008
One and the lost of its only one
“a heartless one, you say?”, ask one to another.
“yes, for the third time, yes. .”
“but one could never imagine having none instead of one. How could that possibly be?”
“believe me, it happened long ago before one ever realized. .”
“that..?”
“that one has lost it’s one and only heart.”
“yes, for the third time, yes. .”
“but one could never imagine having none instead of one. How could that possibly be?”
“believe me, it happened long ago before one ever realized. .”
“that..?”
“that one has lost it’s one and only heart.”
Monday, 21 January 2008
Dream book
This isn't my dream book but the book of my dream. I have this book contain of my colored-storytelling-live-dream. I always have an amazing dream. Just like the movie, it has many genre. I wrote this book since year 2000, so it has been 8 years until now.
About love, crush, envy, about thriller, chased by Chinese vampire, about witness, seeing someone eaten by sharks, death of the loved one, about goodbye, about lust, sex and shame, about science fiction, galaxy on my yard, about freedom, flying, hope, about great disappointment, about self appreciation, about everything.
Me, an actress, a VIEWER.
I watch my own movie, deep down there. And always remember every tiny little detail.
Sunday, 30 December 2007
Mas, aku punya pacar
asri_paramitha (1:48) : Mas, aku punya pacar
airakha (1:52) : Lalu?
asri_paramitha (1:52) : Mau kasih tahu aja
airakha (1:54) : Bagus lah
asri_paramitha (2:00) : Aku dulu suka sama mas
asri_paramitha (2:07) : Mau kasih tahu aja
asri_paramitha (2:07) : Nunggu waktu yang tepat… baru kesampean sekarang dehhhh… :P
airakha (2:11) : Kok bisa?
asri_paramitha (2:11) : Hah, apanya? Oh, kita ketemuan waktu aku di ak’sa’ra. Klise banget deh jadi aku lagi liat buku tebel gitu.
airakha (2:12) : Maksudnya, suka gua
airakha (1:52) : Lalu?
asri_paramitha (1:52) : Mau kasih tahu aja
airakha (1:54) : Bagus lah
asri_paramitha (2:00) : Aku dulu suka sama mas
asri_paramitha (2:07) : Mau kasih tahu aja
asri_paramitha (2:07) : Nunggu waktu yang tepat… baru kesampean sekarang dehhhh… :P
airakha (2:11) : Kok bisa?
asri_paramitha (2:11) : Hah, apanya? Oh, kita ketemuan waktu aku di ak’sa’ra. Klise banget deh jadi aku lagi liat buku tebel gitu.
airakha (2:12) : Maksudnya, suka gua
Tuesday, 18 December 2007
Introduce me : (...)
Ini bulan ke lima Rama mengacuhkan Alia dari kenyataan bahwa Alia, masih ada. Masih hidup di seberang sana, disuatu tempat yang Rama tahu persis, tapi tak mau tahu. Alasannya klise. Rama butuh waktu lama untuk menguatkan dirinya bahwa, apakah ia menyukai Alia atau tidak? Pasalnya, Rama sangat gampang terusik hatinya. Bukan kepada setiap perempuan yang ia temui lalu menaruh perhatian kepadanya, tapi kepada beberapa perempuan tertentu. Setelah pada akhirnya ia menetapkan bahwa Duma, perempuan yang ada di hatinya saat itu, dimana Rama butuh waktu hamper 8 bulan untuk meyakinkan dirinya bahwa ia –ternyata- memilih DUma untuk ada di hatinya; sekarang setelah lepas tiga hari setelah kedatangan perempuan asing ke kantornya, keyakinan Rama akan Duma terusik.
Sunday, 11 November 2007
Skak mat
“Jangan cerca saya!”, geram Alida. Sudah bertahun-tahun ia hidup dalam ketenangan dan kebahagiaan sampai pada suatu saat, saatini, ada seseorang yang hadir dalam hidupnya selama waktu lima minggu, serta merta mengeluarkan pendapat jahatnya. “Saya suka mengeluh? Tidak! Tidak pernah terbesit sekalipun untuk mengeluh! Tidak akan, Dion!”, kata-kata itu terdengar hampir di seluruh lobi mall. “Tidak secara kata-kata, tapi secara tindakan, Lid. Saya bisa membacanya. Kamu tidak pernah mengatakan sesuatu yang nyata keluhan, tapi gesture kamu menyatakan demikian.”
Siapa Dion ini sampai beraninya dia mengatakan Alida suka mengeluh? Alida sama sekali ‘bersih’. Ia disukai orang, ia selalu dicari dan menjadi primadona sekitarnya. Alida itu.. dia… jujur, dia sangat disayangi semua orang.. Dion, bukan siapapun. Hanya kenalan saja. Baru tiga kali ini mereka bertemu. Dan kali ini yang terakhir kalinya mereka akan bertemu, setidaknya itu yang terbesit sekilas di kepala Alida sejenak setelah Dion ‘mencercanya’. “Apa dasar pemikiran kamu, huh?”, Tanya Alida untuk yang kedua kalinya. Kali ini panas kepalanya tak dapat tertahan lagi. Umbaran dampratan bernada halus pada akhirnya keluar sudah. “Semua yang kamu kerjakan untuk orang lain, segala kesulitan yang kamu terima dengan lapang dada, tapi tidak sebenarnya di hati kamu. Kamu kerjakan semua, kamu cari solusi mengerjakannya, walau bagaimanapun caranya. Semua ‘musibah’ yang kamu dapatkan, sama kamu dibalik pemikiran itu menjadi sebuah anugrah. Kamu membohongi kenyataan. Menerima musibah dengan ikhlas? Bagus sekali. Tapi tidak begini caranya. Lelah kamu, kamu jadikan hadiah. Senyum kamu, kamu jadikan kedok. Lama kelamaan itu semua menumpuk, kamu membohongi diri, Lid. Tidak secara langsung, tapi saya selalu bisa melihat keluhanmu dari segala segi tindakanmu di belakang mereka.”
Wow, kata-kata yang panjang. Tak terbesit di benak Alida itu semua akan keluar dari mulut Dion, seorang stranger by the day, untuk hari ini. “Saya.. saya jadi tak kenal kamu, Dion. Saya malah melihat kamu yang mengada-ada. Kamu bukan Dion. Bukan Dion yang saya kenal. Saya tidak seperti itu, Dion. Sama sekali bukan. Tunggu, kita baru bertemu tiga kali dan kamu bisa menebak saya dengan begitu cepatnya? Kamu bahkan belum kenal saya! Kamu bahkan tak tahu saya sama sekali. Tidak sedikitpun rahasia saya yang pernah saya keluarkan ke kamu, hidup saya, tidak sama sekali. Jadi tolong, singkirkan pikiran mengada-ada itu, Dion…”
“Nggak,Lid. Saya tahu kamu sudah lima tahun. Sangat tahu. Saya bisa memberikan buktinya. Kamu tak akan mau tahu bagaimana saya bisa mengenalmu sebegini jauhnya..”, jawab Dion segera. Alida makin bingung. Amat bingung. “Dion, ggak mungkin. Bagaimana bisa, saya sama sekali tidak kenal kamu seperti ini..” Dion tersenyum,”Bagaimana kalau saya bilang, selama lima tahun ini, hidup kamu semua skenario rekayasa?” Alida sama sekali ling lung. “Kamu aktrisnya, saya sutradaranya..”, Dion sekali lagi berkata. . .
Monday, 24 September 2007
Senyum ini milik siapa?
Perjalanan panjang kulalui. Senyum yang kusimpan di dalam sapu tangan ungu ini membawaku jauh dari tempat dimana kutemukan dia. Senyum ini membawaku melewati lapangan yang luas, hamparan rumput yang indah, sekelompok penyanyi pinggir jalan dengan suara memukau, tumpukkan buku yang hebat, sampai sebuah patung yang sangat megah. Senyum ini membuatku lelah.
Jejak biru tua itu terlihat makin menipis. Aku tak sabar ingin menghampirinya. Memuaskan rasa keingintahuanku akan pemilik senyummanis ini. Serta merta menanyakan alasan mengapa dia sampai teganya meninggalkan senyum seindah ini.
Jejak biru tua itu habis beberapa langkah kemudian. Aku terdiam di sebuah kotak telepon tua yang sudah usang. Disekelilingku? Tak ada apa-apa kecuali pepohonan rindang. Dari sudut kanan terdengar suara derap langkah ringan. AKu menoleh ke arahnya dan mendapati seorang perempuan yang sangat menarik. Kuyakinkan diriku bahwa senyum ini pasti miliknya setelah aku memandang wajahnya. Aku menghampirinya, diapun menghampiriku.
“Senyum ini pasti milik kamu… “, kata kami bersamaan.
Kami saling berpandangan, dan saling tersenyum.
Dalam suatu Februari
Suatu hari di bulan Februari, Anna berdebar-debar menunggu sms yang akan datang ke handphonenya. Dia menyiapkan segelas teh hangat, buku novel favoritnya, dan lampu tempat tidur yang menyala. Waktu menunjukkan pukul 23.58 dan jantung Anna tak henti-hentinya berdebar.
Subscribe to:
Posts (Atom)