Pages

Monday, 4 January 2010

The Bule’s Fenomena – Why we love them so much

Nggak jarang setiap hari kita melihat serentetan wajah-wajah asing di Indonesia, terutama di Jakarta. Meskipun sesama foreigner, tapi yang biasa disebut Bule adalah mereka yang berkulit putih, either itu Americans, Australians, atau Europeans. Dan, nggak usah ditanya lagi sebuah kenyataan bahwa kita punya pandangan sendiri terhadap mereka. Apakah itu?

Mental jajahan Indonesia masih sangat kuat. Pengalaman terjajah sekian lamanyaaaa masih lekat di kepribadian kita. Seperti apa misalnya? Banyak dari kita yang menganggap bule itu, WAH. WAH dalam arti kata, lebih punya power, lebih disegani, mereka itu pintar, dll.

Sebenarnya kalau ditelusuri lebih lanjut, kenapa mereka lebih disegani mungkin karena mereka tipe orang yang liberal. Blak blakan. Beda dengan disini yang malu malu kucing dalam menyampaikan pendapat. Kenapa mereka dibilang lebih punya power, karena mereka satu-satunya yang berbeda (warna, perawakan) diantara masyarakat majemuk disini. Kayak gini deh, dari antara seribu angsa putih, ketika ada 1 angsa hitam yang join the herd, pasti angsa hitam itu yang menarik perhatian. Karena berbeda. Belum tentu dia lebih baik, kan? Bisa saja angsa hitam itu ambeyen atau sakit kutil. Tapi bukan itu yang dilihat. Luaran lebih penting. ( jadi ingat fenomena The Black Swan. Have you guys read it? )

We are afraid of them. Kita cenderung nurut sama mereka.
Bule nanya sesuatu ke resepsionis bersama dengan penduduk local lainnya, pasti dia yang didulukan. Kecenderungan mendahulukan bule. Lalu ada lagi, misalnya dalam dunia pekerjaan. Bule selalu lebih dipercaya. Contohnya deh yang sering terjadi, gaji bule pasti lebih besar. Misalnya ada 2 team untuk bekerja dalam proyek yang sama. 1 team local berisi 3 orang, dan 1 team lainnya berisi 2 orang bule. Gaji si team bule, 2 kali lipat.

Atau semakin maraknya pimpinan pimpinan bule di banyak perusahaan. Nggak jarang keluhan-keluhan datang dari bawahan yang notabene nya, penduduk local. Bagaimana senang, dipimpin oleh pimpin an bule (mungkin juga) baru datang ke Indonesia dan ujug2 dijadikan atasan mereka. Tahu tentang culture Indonesia saja tidak, lalu tiba2 merombak semua peraturan. Belum lagi alasan yang diberikan oleh pihak HRD yang menyatakan bahwa, “Ya.. kalau saja orang Indonesia bisa sepintar bule”. Ironis. Siapa yang ironis? Orang Indonesia tidak sepintar bule, atau pandangan orang Indonesia yang tidak percaya kemampuan sendiri?

Bule masih dipandang lebih jago dan lebih pintar.
Tapi pernah nggak kebayang kalau mereka sebenarnya juga orang biasa? Lahir dari keluarga sederhana di negaranya, sebut saja USA, lalu ikut suami/istri ke Jakarta, lalu cari pekerjaan. Se-biasa itu kehidupannya. Nggak spesial.

Dalam hal ilmu, disayangkan, banyak orang bule yang dianggap superior. Atau orang Indonesia yang lulusan luar negri , juga dianggap lebih berkualitas. Tanpa bermaksud merendahkan mereka, kadang kita tidak melihat kualitas sendiri. Ambil contoh satu lagi deh. Sebuah studio yoga biasanya dilihat bagus tidaknya, dari, Apakah dia memiliki pengajar bule. Nggak jarang hal itu terjadi krn anggapan, akan bagus dan lebih bernama kalau punya pengajar orang luar. Tanpa, memperhatikan apakah pengajar itu benar-benar memiliki sertifikat mengajar dan tahu betul anatomi tubuh manusia sebagaimana yang harus dimiliki seorang pengajar, Iyengar misalnya. Nggak sedikit juga dari mereka yang hanya iseng2 ngajar berbekal, tahu sedikit tentang yoga. Dan nggak sedikit pula yang belajar dari pengajar local yang memang sudah jauh lebih mahir. Hanya karena lokal saja, jadi nggak dipandang. Ironis?

Lalu, semua salah si bule?
Nggak lah. Salah cara pandang saja kalau kata saya pribadi.

Telah disebutkan kalau kita masih bermental dijajah. Nrimo. Rendah diri, minder. Inferior. Dan sulit untuk maju, kemauan diri untuk jadi lebih baiknya, rendah. Correct me if I’m wrong, please :)
Ambil contoh Cina. Pemerintah Cina membiayai orang-orangnya untuk kerja diluar, sedot, ambil ilmu, dan kembali lagi ke Cinta untuk memajukan bangsa. Orang Thailand, di advertising agencynya, nggak ada yang mau kerja di bawah pimpinan bule. Kalaupun ada juga bawahannya pasti orang Filipina, Singapura, India. Mereka local content-nya amat sangat kuat. Itulah mengapa kalau diperhatikan, iklan-iklan Thailand sangat kuat dan bagus. Kenapa? Karena menurut mereka, hanya mereka yang tahu diri mereka sendiri.

Bagaimana dengan kita?
Kembali saya bertanya kepada anda dan diri saya sendiri sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Apakah semua kegiatan, perusahaan, usaha kita baru bisa maju setelah campur tangan bule? Mengapa banyak sekali bangunan-bangunan, kegiatan sosial, hasil desain, bahkan pelestarian kebudayaan dan juga kebun binatang malah ditangani oleh bule, dan berhasil? Mungkin kita cenderung misah misuh, tapi apa yang sudah kita perbuat untuk menjadikan Negara ini lebih baik, lebih berkarakter, lebih punya kemauan? Seperti sebuah slogan, kutau yang kumau. Kamu gimana?



Mari bercermin. :)

cheers!

No comments:

Post a Comment

tell me what you think!