Pages

Wednesday, 8 May 2013

Menuju Perubahan Hati (Jeddah-Medina-Mecca) part.1

Setelah tahun lalu sempat tertunda karena beberapa hal, alhamdulillah sekaliii tahun ini bisa ke Tanah Haram Mekah. Sempat deg-degan ketika mendengar kisah sewaktu manasik yang dimana banyak kendala seperti visa tidak keluar, tiba-tiba disuruh turun, dan lain sebagainya. Namun dengan sangat bahagia saya katakan bahwa kalau memang rejekinya sudah diundang oleh-Nya, segala sesuatu akan berjalan dengan lancar. Dan memang benar, April 13 saya dan keluarga duduk manis di Saphire Lounge terminal 2 sambil mendengarkan sepenggal ceramah sebelum kami pergi dengan Lion Air airbus CKG-JDH.

Berbicara mengenai Lion Air. Awalnya saya was-was (was-was mulu ah). Ya, soalnya seringkali mendengar kisah Lion Air yang kenapa-kenapa. Mulai dari mendarat di laut lah, kebelah lah, jatuh, karam, ah pokoknya segala macam yang bikin deg-deg an! Tapi memang ya suka gitu, disaat kita saya berusaha sebel sama sesuatu, sampai kepikiran, akhirnya dapet deh kesempatan untuk bertemu dengan si sesuatu itu. Akhirnya memang saya naik Lion Air.

Saya kira Lion Air itu kecil. (Pasti ada sih ya yang kecil) Tapi kata kakak saya, "Nggak mungkin lah kalau Umroh pakai Lion Air kecil, pasti pakai yang khusus penerbangan luar negeri dan pasti pakai airbus". Kontan di kepala langsung kebayang air dan bus (literal). Lalu terbayang macam-macam seperti ada bus besar, masuk ke air (lagi-lagi mengarahnya ke arah pesawat tenggelam). Tapi ya alhamdulillah, 9 jam perjalanan yang lumayan pegel itu berjalan dengan lancar. Saya overall bahagia, pertama karena alasan ini:

 
Saya duduk di lantai 2, di pinggir, ada tempat taruh tas, madep langit

 
Dikasih makan banyak (macam sapi potong saja)...



Sesampainya di bandara King Abdul Azziz Jeddah, saya sangat terpukau oleh tutupan (atep) yang kayak payung tenda. Saya pikir, boleh juga nih kalau di Jakarta pasti seru (mau ditaruh dimana tapi..)



Lalu sempat ada kejadian menggelikan dimana kita mau naik bus yang akan membaca kita menuju Medina, tapi pintu belum terbuka. Jadilah kita menunggu depan bus satu rombongan. Dan ternyata pintu di kanan sudah terbuka dari tadi. Ya..tidak ingat kalau disana setir kiri..... :")

  

Perjalanan menuju Medina memakan waktu sekitar 5 jam. Namun tak mengapa, karena bus yang kami naiki sungguh besar, memiliki toilet yang baik, serta ber AC. 

Konon, ketika kita telah sampai di tanah suci, segala sifat asli dan kebiasaan kita akan keluar disana. Bahkan, malah dikasih! Contoh #1 yang paling terasa adalah: Saya suka tidak bangun kalau pasang weker, katanya dirumah sih keberisikan tapi saya nggak kerasa karena saya masih enak tidur. Walhasil dalam perjalanan ini, saya yang duduk paling depan, dihadapkan dengan bunyi alarm bus yang selalu menyala kalau kendaraan mencapai kecepatan 120km/jam yang dimana: kecepatannya mencapai lebih dari 120 km/ jam. Selama hampir 5 jam saya mendengar alarm itu....... 

Sampai juga di Medina! Kita semua bermalam di hotel Al Eiman Taibah. Alhamdulillah ukurannya menakjubkan karena kami sekamar berempat (plus satu orang diluar keluarga kami) dan asik-asik aja. Untuk makanan, standar, dengan menu yang Indonesia sekali. Selalu ada sop, telur, roti, buah dan krupuk. Pernah satu waktu sopnya sop dengan campuran telur kocok dan seperti kepiting (entahlah) namun saya sampai ambil 4 mangkok. Subhanallah rakusnya... 

Sip sip, postingan berikutnya berkisah seputar Medina! See you all again later yap :)

OIAAA. Kenapa judulnya Menuju Perubahan Hati? Karena kita berangkat bersama travel agent ciamik bernama Mihrab Qolbi (lokasinya ada di deket rumah di Tebet, cuma menggelinding sekian meter...) dan memang mereka memiliki tujuan 'Menuju Perubahan Hati'. Well, berubahkah hati akhirnya? Well see! ;)


No comments:

Post a Comment

tell me what you think!